Search Sara Dina Mohd Noor. Noor Dina Muhd Noor Dr Mohd Noor (bapa) Noor Kartini Noor Mohamed (ibu) Abdul Halim Khan (bapa tiri) Saudara Join Facebook to connect with Noor Asiah Mohd Nor and others you may know norfarahi binti zulkifli Fairolniza Mohd Shariff Dr Fairolniza Mohd Shariff Dr. Osama Aziz Siddiqui: Wasifa Khan: Mutawakil Omer Musa: Sara Tassadaque Hussain: Abdul Rehman Kabani
J74w. Sinopsis Film ASY SYAHIID KH. ZAINAL MUSTHOFA Karena dianggap membangkang kepada Pemerintah Jepang, 4 Perwira Jepang mendatangi Pesantren Sukamanah untuk memaksa KH. Zainal Musthafa agar mau dibawa ke Tasikmalaya. Ternyata ratusan santri sudah menghadang di depan Pesantren Sukamanah dilengkapi senjata pedang bambunya. Keempat perwira Jepang tewas di tangan para santri sebagai balasan Pemerintah Jepang mengirimkan pasukan pasukan dalam jumlah yang lebih banyak dan pertempuran terjadi. Santri banyak yang mati syahid dalam medan pertempuran yang di kenal dengan peristiwa Sukamanah berdarah. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 25 Februari 1944. Pemeran Film ASY SYAHIID KH. ZAINAL MUSTHOFA Film ASY SYAHIID KH. ZAINAL MUSTHOFA dibintang diantaranya . Kapan Film ASY SYAHIID KH. ZAINAL MUSTHOFA Mulai Tayang? Kapan Film ASY SYAHIID KH. ZAINAL MUSTHOFA mulai tayang di bioskop Indonesia? Film ASY SYAHIID KH. ZAINAL MUSTHOFA dijadwalkan akan tayang di bioskop-bioskop Indonesia pada . Jadwal tayang film ASY SYAHIID KH. ZAINAL MUSTHOFA dapat berubah sewaktu waktu tanpa pemberitahuan. Jadwal Tayang Film ASY SYAHIID KH. ZAINAL MUSTHOFA Jadwal tayang film ASY SYAHIID KH ZAINAL MUSTHOFA di berbagai kota di Indonesia. IMDB - Sutradara Penulis Produksi Produser Trailer Film ASY SYAHIID KH. ZAINAL MUSTHOFA
Sinopsis Asy Syahid KH. Zainal – Asy Syahid KH. Zainal merupakan sebuah film asli Indonesia yang mengusung berbagai genre sejarah, biografi, dan religi. Film nasional ini mengisahkan tentang perjuangan seorang Kyai bernama KH. Zainal Musthafa dan para santri yang tengah menimba ilmu di Pondok Pesantren Sukamanah yang terletak di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat, dalam masa penjajahan Jepang. Bagi mayoritas penduduk di daerah Tasikmalaya, nama KH. Zainal Musthafa sudah sangat lekat di kehidupan mereka. Hal ini dikarenakan paling tidak, penduduk setempat mengenalnya sebagai nama sebuah jalan di pusat kota Tasikmalaya, atau nama sebuah monument perjuangan. Selain itu, besar kemungkinan kalau mereka juga mengenalnya sebagai sebuah nama Yayasan pendidikan yang ada di desa Sukarapih, Sukarame. Disatu sisi, ada pula yang mengingat sekaligus mengenalnya sebagai sosok seorang ulama penuh kharismatik dan sebagai salah seorang pahlawan Nasional. Terlebih lagi, biasanya setiap tanggal 25 Februari di Kabupaten Tasikmalaya selalu mengadakan sebuah acara khusus. Tak lain acara tersebut diadakan untuk memperingati perjuangan KH. Zainal Musthafa. Siapa Itu KH. Zainal Musthafa? Beliau merupakan seorang pejuang Islam pertama dari Jawa Barat yang mengadakan pemberontakan terhadap pemerintahan Jepang. KH. Zainal Musthafa lahir dari keluarga berkecukupan yang merupakan putra dari pasangan Nawapi dan Ny. Ratmah. Sewaktu masih kecil, beliau biasa dipanggil dengan Nama Hudaeni. Namanya menjadi Zainal Musthafa setelah dirinya menunaikan ibadah haji pada tahun 1927. Pada tanggal 26 Desember 2016 di Tasikmalaya, produksi Sultan 21 Picture Present telah memulai syuting film yang berjudul “Sang singa Singaparna”. Film tersebut telah mengusung genre sejarah, biografi dan religi yang mana menceritakan mengenai kisah perjuangan KH. Zainal Musthafa bersama para santrinya saat masa penjajahan Jepang di Indonesia. Sinopsis Awal cerita dari Film ini dimulai ketika Pimpinan Pondok Pesantren Sukamanah Tasikmalaya beserta para santrinya kerap mengalami siksaan. Tak hanya disiksa, bahkan mereka juga dipenjara oleh pemerintahan Jepang. Hal itu membuat ratusan santri kehilangan nyawa mereka. Sementara itu puluhan santri lainnya juga dilaporkan menghilang termasuk sang Pimpinan Pondok Pesantren KH. Zainal Musthafa. Mereka ada yang menghembuskan nafas terakhir di Penjara Sukamiskin Bandung, yakni sebanyak 38 orang dan banyak yang cacat kehilangan mata. Beberapa tokoh Tasikmalaya yang juga termasuk bupati juga ikut bermain dalam film genre sejarah tersebut. Seperti yang diketahui, film ini dibintangi olek aktor papan atas Ali Zainal yang berperan sebagai KH. Zainal Musthafa. Dalam mendapatkan peran ini, Ali mengaku sangat berat. Untuk itu berkali-kali dirinya bertawasul kepada almarhum agar dilancarkan semua proses syutingnya. Dalam film tersebut digambarkan bagaimana sikap keberanian dari Sang Singaparna KH. Zainal Musthafa ketika melawan para penjajah Jepang. Perjuangan KH. Zainal Musthafa pun dimulai saat semua alim ulama atau para ajengan yang berada di sekitar Singaparna Tasikmalaya harus berkumpul di Alun Alun Kota Singaparna. Di bawah todongan senjata para ulama diminta harus tunduk ke arah Tokyo atau seikerei. Lantaran kala itu situasinya sangat menegangkan membuat mereka merasa takut hingga akhirnya para ulama itu termasuk Kiai Rukhiyat Pendiri Pesantren Cipasung menuruti perintah itu. Namun ternyata tidak untuk KH. Zainal Musthafa, ia sama sekali tidak takut. Bahkan hanya KH. Zainal Musthafa satu-satunya ulama yang berani membangkang. Tentu ada alasan kuat dibalik keberaniannya, Sang Singa Singaparna punya keyakinan perbuatan itu musyrik Menyekutukan Tuhan. ”Lebih baik mati ketimbang menuruti perintah orang-orang Jepang,” Ucapnya. Sejak saat itu juga dia memberanikan diri menabung genderang perlawanan terhadap penjajah Jepang. Pasalnya ia sudah tidak tahan lagi menyaksikan penderitaan yang dirasakan oleh warga setempat. Kemudian KH. Zainal Musthafa bersama para santrinya merencanakan gerakan tanggal 25 Februari 1944 1-Maulud 1363 H. Persiapan melawan Jepang direncanakan dengan sangat matang. Ia meminta pada para santri untuk mempersiapkan bambu runcing dan juga golok. Mereka terus melakukan latihan demi memperdalam ilmu pencak silat. Selain itu, KH. Zainal Musthafa juga membekali para santrinya dengan latihan spiritual seperti melakukan puasa sunnah, mengurangi tidur, dan membacakan wirid-wirid Dzikir untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhan Pencipta Alam. Namun ternyata, persiapannya dalam melawan Jepang terendus oleh pihak lain. Hal itu lantas membuat Jepang langsung mengirimkan utusan dan Camat Singaparna beserta 11 staff lainnya. Rupanya kedatangan mereka untuk menangkap KH. Zainal Musthafa. Dan perintah itu seketika di tolak oleh KH. Zainal Musthafa. Hingga akhirnya penolakan tersebut memancing keributan. Kejadian itu menewaskan empat opsir. Bahkan ada pula santri bernama Nur meregang nyawa setelah terkena tembakan dari salah satu opsir Jepang. Sontak saja kejadian itu langsung memicu kemarahan Jepang. Pada sore hari sekitar pukul WIB, truk tentara Jepang sempat mendekati garis depan pertahanan Sukamanah. Tak lama kemudian terdengar suara takbir, tentu saja hal itu membuat pasukan Sukamanah sangat terkejut saat dihadapan mereka ternyata bangsanya sendiri. Ternyata tentara Jepang sukses menggunaka taktik adu domba dan menghasut bangsanya. Sebuah peristiwa yang digambarkan kejadian yang amat heroic. Ratusan santri Pondok Pesantren Sukamanah ikut terlibat dalam peristiwa pertempuan dan perkelahian jarak yang begitu dekat. Namun sayang dua kekuatan tersebut jelas sangat tidak seimbang, senapan mesin, pistol, dan granat pasukan Jepang yang dipakai pasukan Tanah Air yang sudah terhasul oleh Politik adu domba Tentara Jepang itu juga berhadapan dengan para pasukan yang dipimpin oleh KH. Zainal Musthafa yang saat itu hanya punya senjata berupa bambu runcing, pedang bambu, serta batu. Sekitar satu setengah jam, pertempuran itu berakhir sangat pilu. Puluhan santri Ponpes Sukamanah banyak yang meregang nyawa dalam pertempuran tragis. Ada 86 orang yang dinyatakan mati Sahid dalam pertempuran tersebut. Jenis Film Drama, History Durasi 140 menit Negara Asal Indonesia Sutradara Bara Bantalaseta Penulis Naskah Bara Bantalaseta Produser Agus Herdis Pemain Ali Zainal, Krisni Dieta, Toro Margens, Annisa Shifa, Tahtania Regina Produksi Sultan 21 Pictures Rilis TBA Februari 2018 Review belum ada Trailer Artikel Terkait
- Perlawanan Ajengan Sukamanah, KH Zainal Musthafa, di Tasikmalaya pada tahun 1944, disebut sebagai pemberontakan sipil terbesar dalam sejarah militer Jepang di Jawa. Hal itu memang diakui sendiri oleh Kenpeitai, polisi militer Jepang, yang berhadapan dengan KH Zainal Musthafa beserta ribuan pengikutnya yang terjadi pada Jumat, 18 Feburari 1944. Pengakuan itu disampaikan Keinpetai melalu sebuah dokumen yang diterbitkan dalam buku The Keinpeitai in Java and Sumatra 2010, karya S Barbara Gifford Shimer dan Guy tersebut kemudian dikutip Iip D Yahya dalam buku biografi KH Zainal Musthafa berjudul Ajengan Sukamanah 2021. Buku tersebut dibedah oleh KNPI Kabupaten Tasikmalaya secara online dan offline pada Sabtu 21/8/2021. Perlawanan Ajengan Sukamanah Pertempuran di Pesantren Sukamanah antara KH Zainal Musthafa atau KH Zainal Mustafa bersama ribuan pengikutnya melawan militer Jepang terjadi pada Jumat, 18 Februari 1944. Baca juga Meluruskan Sejarah, Ini Foto Asli KH Zainal Musthafa, Pahlawan Asal Tasikmalaya Awalnya, Ajengan Sukamanah ini menentang sejumlah kebijakan kolonal Jepang yang merugikan dan menindas rakyat Indonesia. Kebijakan pertama adalah soal upeti padi yang membebani rakyat. Apalagi saat itu kondisi sedang paceklik hingga membuat rakyat kesulitan. Kebijakan kedua yang ditentang KH Zainal Musthafa adalah kerja paksa romusha. Jepang sudah mengirimkan tenaga kerja paksa ke seluruh wilayah di Indonesia dan Asia sejak Oktober 1943. Selanjutnya kebijakan ketiga yang dinilai melukai umat Islam dan sangat ditentang Ajengan Sukamanah adalah kewajiban kyujo yohai, yakni menghormati istana Kaisar Jepang di Tokyo dengan cara membungkukkan badan arah timur mirip ruku dalam shalat. Kebijakan ini dikenal pula sebagai saikeirei. Pada tahun 1944, kebijakan upeti beras semakin keras. Bahkan banyak santri yang hendak mondok di Pesantren KH Zainal Musthafa dirampas bekalnya oleh tentara Jepang dan antek-anteknya. Kondisi itu tentu saja meresahkan masyarakat dan membuat Ajengan Sukamanah kian dan sikap perlawanan Ajengan Sukamanah terhadap kolonial ditunjukkan dengan ceramahnya yang keras terhadap Jepang. Selain itu, Ajengan Sukamanah juga menolak melakukan saikeirei setiap menghadiri pertemuan dengan pemerintah atau juga perkumpulan ulama. Sikap Ajengan Sukamanah seperti itu mulai terendus militer Jepang. Pihak Jepang menganggap bahwa KH Zainal Musthafa hendak melawan kolonial. Apalagi, pihak militer Jepang juga mendengar informasi dai mata-matanya bahwa Ajengan Sukamanah sedang melatih santri dan masyarakat ilmu bela diri pencak silat. Pihak Jepang mengira bahwa KH Zainal Musthafa akan memberontak, padahal pelatihan itu sesungguhnya untuk penjagaan karena kala itu situasi keamanan di sekitar pesantren sedang genting. Banyak perampokan dan pencurian akibat kemiskinan pasca-kebijakan upeti paksa padi oleh Jepang. Selain itu, ada miskomunikasi antara mata-mata Jepang dan Kenpeitai. Mata-mata yang kemungkinan dari pribumi yang berbahasa Sunda ini mengolah informasi ke dalam bahasa Melayu. Lalu dari bahasa Melayu ditafsir ulang ke dalam bahasa Jepang oleh pihak Jepang yang baru bisa berbahasa Melayu. “Kesalahpahaman sangat mungkin terjadi dalam proses ini,” kata Iip D Yahya, penulis Ajengan Sukamanah saat bedah buku, pekan lalu. Setelah mendapat banyak informasi mengenai gerak-gerik Ajengan Sukamanah itu, Kenpeitai yang merupakan militer Jepang paling galak dan kejam itu kemudian meminta KH Zainal Musthafa untuk datang ke markas Kenpeitai di Tasikmalaya. Mereka mengutus mulai kiai hingga aparat pemerintah seperti camat untuk membujuk Ajengan Sukamanah agar mendatangi markas Kenpeitai di Tasikmalaya. Namun Ajengan Sukamanah menolak tegas ajakan itu. Selanjutnya, militer Jepang mengutus polisi setempat yang sudah tunduk pada kolonial untuk membujuk KH Zainal Musthafa. Para polisi itu kemudian mendatangi pesantren Ajengan Sukamanah pada Kamis, 17 Februari 1944. Namun bukannya berhasil membujuk Ajengan Sukamanah, para polisi itu malah mendukung Sang Kiai. Hal itu dibuktikan dengan tidak melakukan perlawanan ketika santri KH Zainal Musthafa melucuti senjata para polisi itu. Bahkan mereka ikut shalat berjamaah dan mengikuti ceramah KH Zainal Musthafa. Karena para polisi dari pribumi itu gagal, lalu Kenpeitai kembali mengutus 4 tentara Jepang dan satu penerjemah pada Jumat, 18 Februari 1944. Keempat tentara Jepang itu adalah Sersan Kobayashi, Sersan Nakamikawa, Kopral Okuni dan Kopral Kuwada.